Salah satu profesor di departemen lain bilang: coba kamu dulu masuk sini, pasti sekarang sudah “jadi”.Jadi apa ya…setiap orang punya ukuran kesuksesan tersendiri, buat saya keluarga adalah utama,”Hum Sath Sath Hai” dan saya bersyukur untuk itu;untuk ibu saya, istri tercinta dan Ismail.
Sudah beberapa kali saya mendengar gosip, berita, atau guyonan terkait masalah peminatan S1 saya dulu dan departemen tempat saya bekerja. Bukan main-main, saya sempat didudukkan oleh kepala bagian gizi sewaktu masih CPNS bersama profesor kami untuk di”interogasi”apakah saya memang ingin masuk gizi. Selain itu, pernah juga “the Godfather” yang juga pembimbing skripsi saya memanggil saya saat jalan di lorong dihadapan semua staff departemen beliau dan menanyakan gosip di mahasiswa bahwa saya “mendendam” dengan departemen tersebut karena “tidak mengambil” saya yang dianggap sebagai “anak hilang”. Saya dalam setiap kesempatan selalu menyampaikan bahwa saya adalah “produk generalis” yang siap mengemban TUGAS NEGARA dan menjalankan amanah PREAMBULE Mukadimah UUD 1945 untuk MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA di departemen manapun saya ditempatkan.
Secara pribadi saya memang mempunyai satu azimat atau hujjah terkait pekerjaan saya, dan seberat apapun rintangan dan tekanan yang saya hadapi insyaAllah saya selalu bisa tersenyum bila mengingat hal itu. Semoga pengalaman saya semasa CPNS dapat dijadikan ibroh buat anak-anakku khususnya produk FKM UNAIR.
September 2003 saya lulus S1; mungkin banyak yang menyangka saya langsung ditarik menjadi DOSEN karena “kegantengan” saya, hehe…:p Tidak, saya seperti halnya banyak alumni ikut “proyek” dosen untuk bekal “survive” pasca WINISUDA. Yup…saya bertekad bahwa setelah foto-foto di Auditorium saya ingin memutuskan Beasiswa Orangtua dan mulai dari NOL untuk membangun hidup saya. TIDAK terpikir saat itu untuk menjadi DOSEN, foto sama Kanguru, atau bertemu dengan Istri tercinta di Pulau “Eat Pray and Love”; saat itu pikiran saya hanyalah untuk membahagiakan orangtua, utamanya ibu angkat saya dengan menjadi mandiri dan bekerja untuk memudahkan kehidupan beliau. MedREP dan Asuransi adalah target utama dan hal yang realistis untuk pekerjaan saat itu, bahkan saya sempat ikut training pialang forex dan digaji 400 rb, lebih rendah daripada gaji pembantu saya saat pertama kerja. Namun semua itu saya syukuri, saat-saat itu juga indah, saya masih SREGEP puasa Daud, buka nasi bungkus dekat masjid Ijo saya di Mulyorejo Tengah serasa sangat lezat, atau nasinya Dhe Thi yang cuma 2000 an full nasi dan sedikit lauk. Di tahun 2003 CPNS booming dengan OTODA dan tidak dilakukan dengan serempak, saya dan hampir semua rekan seangkatan Road Show utamanya di Jatim, mulai dari Bondowosa (Cak Bas pemenangnya), Kediri Kabupaten, Kediri Kota, Ponorogo, Pasuruan, Batu, Bojonegoro…bahkan Poltek Perkapalan ITS (D4 Hyperkes), dan Unair tentunya. Di Kabupaten Orangtua Kandung saya, saat itu memang rumor NYOGOK masih kental, minta 50 jt dan orangtua saya berpikir sederhana, uang sebanyak itu adalah jaminan anakku untuk kehidupannya hingga pensiun, nggak apa-apa nyogok, daripada dibuat modal belum tentu berhasil. Saya bingung..saya menolak mentah-mentah. Hasil di Kabupaten Ortu diumumkan saya GAGAL. Setalah itu saat saya masuk 3 besar selesksi CPNS Bojonegoro, Calo CPNS Kab. rumah Ortu saya dan menawari hanya dengan 30 juta, tanpa persetujuan saya ortu langsung menyetujui dan memberikan 1 jt sebagai tanda jadi, karena mereka tahu tentu saya menolak. Saya bingung…ini adalah usaha orangtua, namun saya juga takut pekerjaan HALAL yang saya dapatkan dengan cara TIDAK HALAL bagaimana hukumnya. Saya bertekad saya HARUS bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa membuat orangtua saya tidak kecewa, dan harapan saya adalah CPNS Bojonegoro. Saat itu saya sudah lolos tes tulis, hanya 3 orang: saya, Bu Lail (Yup..Bu Lail Gizi) dan Mbak Arik (Anak Bojonegoro Angkatan 98). Untuk mengakali rumor bahwa diprioritaskan “putra daerah” saya sudah menjadi warga Bojonegoro karena masuk KK keluarga sahabat saya “Mas drh. Yongki”. Angan sudah melambung tinggi karena di Kabupaten Kota lain saat ibu rata-rata menerima 4-5 orang. Akhirnya saya GAGAL dan mbak arik yang keterima. Duuuhhh…sakit, kecewa..next stop ITS, masuk hingga wawancara; namun saya kalah dengan karib saya temen S0 Mas Luqman, beliau dari D3 Hiperkes dan peminatan hiperkes dulu..sedang saya saat ditanya apa skripsi saya tentu “Hubungan Ability to Pay dan Willingness to Pay Copayment Askes di RSUD Saiful Anwar Malang”…pewawancara BINGUNG…sebenarnya apa THO FKM itu??? Panjang lebar saya jelaskan konsep IKM namun GAGAL juga. Akhirnya Unair, Almamater tercinta menjadi ladang rejeki sekaligus PERJUANGAN saya mendidik HEALTH WARIOR yang lebih baik dari saya sendiri menerima saya..entah apa yang dilihat dari diri saya saat itu, padahal saingan saya hingga wawancara cukup berat, diantaranya LULUSAN TERBAIK angkatan saya 99, Mbak Yusi yang seangkatan saya DAN telah HONORER di Gizi, Ustadz Aziz, Bu Maya, Bu Lai (Beliau berdua sedang S2 di Unair saat itu)l,…Alhamdulillah Saya dan Bu Ira (Keduanya peminatan AKM). Saya keterima Bulan April 2004 walaupun SK CPNS dihitung per 1 Desember 2003; jadi sempet merasakan NO MAN’S LAND juga. Mungkin itu ujian atau memang jalan Allah SWT agar suatu saat ketika menghadapi tekanan pekerjaan walau kadang suatu hal yang “tidak profesional” dapat saya lalui dengan baik. Mungkin jika pasca wisuda September saya langsung jadi dosen saya tidak memiliki JIWA seperti itu.
Walapun Saya dan Bu Ira peminatan AKM, namun karena pertimbangan jumlah staff yang ada dan kebutuhan Bu Ira di tempatkan di PKIP dan saya di Gizi. Saya sangat bersyukur..BUKAN karena saya menjadi DOSEN, CPNS namun karena saya dapat KERJA dan bisa MENOLAK/MENGGAGALKAN CPNS SOGOKAN di Kediri. Sekali lagi semoga dari cerita saya diatas, dapat dipahami bahwa saya TIDAK mendendam dengan AKM atau tidak mencintai Gizi, namun saya BERSYUKUR dapat bekerja HALAL dan TOYIB merubah masa depan anak bangsa, masalah konten saya sekarang adalah seorang PUBLIC HEALTH NUTRITIONIST yang selain mata kuliah gizi juga mengajar Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat dan juga insyaAllah Filsafat Ilmu.
Mohon maaf jika ada nama-nama yang dicatut, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Buat anak-anakku yang sedang “BERJUANG” membangun hidupnya sendiri..terus berusaha, banyak berdo’a dan tawakal, insyaAllah hari itu akan datang saat kalian datang dengan bangganya menemui saya diruangan untuk menceritakan kesuksesan kalian.Dan seperti pula Harry Potter, tetap dekat dengan orang-orang yang kalian cintai dan sayangi: orangtua, saudara sahabat atau yang lebih dari itu di hati..karena mereka PASTI akan sangat toleran, supportive dan selalu menyediakan tangan mereka untuk menengadah kehadirat Allah SWT untuk kesuksesan kalian dan memberikan bahu mereka saat kalian memerlukannya..Hum Hongge Kamyab..!
Alhamdulillah…saat menulis note ini saya sembari melihat secarik kertas bertuliskan “SERTIFIKAT PENDIDIK” yang dikeluarkan oleh Universitas Andalas atas nama Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang menyatakan bahwa: TRIAS MAHMUDIONO, SKM.,MPH. Dinyatakan sebagai DOSEN PROFESIONAL bidang studi Kesehatan Masyarakat.Kata-kataya persis seperti itu, DOSEN PROFESIONAL. Bagi mahasiswa kelas filsafat saya tentu akan mempertanyakan atau bahkan mempunyai konsep sendiri apakah DOSEN PROFESIONAL itu secara ONTOLOGIS?
Buat saya BERSYUKUR, PASTI! namun KEBANGGAAN…nanti dulu.
Mengapa hal ini tidak membuat diri saya serta merta bangga, karena dibalik sertifikasi itu, saya menyadari tanggungjawab yang saya emban begitu besar bahkan pada tataran tertinggi hukum negara Republik Indonesia yaitu pada Mukadimah UUD 1945 dimana Negara mempunyai KEWAJIBAN untuk MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA, dan sebagai dosen PNS saya merupakan bagian terkecil, namun menjadi ujung tombak untuk pencapaian hal itu.
Pertanyaannya adalah apakah saya telah benar-benar LAYAK menyandang sertifikat DOSEN PROFESIONAL? Memang sertifikasi dosen (serdos) bagi sebagian orang dianggap ribet, njlimet atau mendetail dari sisi pembuatan PORTOFOLIO Dosen, CV, Penilaian dan Diskripsi Diri yang nantinya juga di cross check dengan penilaian atasan langsung, rekan sejawat dan juga mahasiswa. Disinilah banyak muncul subjektifitas dan terkadang penipuan aktivitas dosen yang tercermin dari kegiatan Tri Dharma yang dilakukan. Kenapa, karena semua penilaian dan borang tersebut “BISA” dikondisikan apabila mau KONGKALIKONG, termasuk dengan mahasiswa. Terlebih penilaian hanya dilakukan secara “DESK EVALUATION” dan tidak mengecek riil di lapangan karena kendala waktu, tenaga dan dana. Namun dalam borang serdos tersebut juga telah mencoba mengantisipasi dengan pernyataan tertulis dan bermaterai bahwa apa yang ditulis adalah benar dan bersedia dicabut haknya apabila ditemukan kesalahan. Akhirnya, kembali kepada moralitas setiap dosen yang mengikuti sertifikasi, dengan kejujuran dan integritas yang tinggi, insyaAllah BANYAK dosen yang dengan sebenarnya mengisi borang apa adanya dan bagi mereka sertifikat DOSEN PROFESIONAL sangatlah LAYAK untuk dianugerahkan. Namun KEBANGGAAN buat saya tidak SELALU berbanding lurus dengan KELAYAKAN seseorang diakui negara sebagai PROFESIONAL atau tidak.
KEBANGGAAN adalah saat dimana kita dapat bermanfaat sebagai alat kecil untuk merealisasikan cita-cita pendiri bangsa untuk kemudian menggerakkan roda pembangunan agar negara menjadi sehat, sejahtera dan berkeadilan sosial. Sekali lagi Alhamdulillah saya telah diakui negara sebagai DOSEN PROFESIONAL, namun ukuran sebenarnya dari PROFESIONALISME menurut saya adalah dari stake holder utama layanan jasa pendidikan yaitu MAHASISWA: saat saya tidak telat kuliah, saat saya mampu menguasai kelas sehingga membuat mahasiswa NYAMAN dan ENJOY untuk belajar,saat mahasiswa menguasai kompetensi ilmu yang saya ajarkan, saat mahasiswa terinspirasi menjadi LEBIH BAIK dan saat ilmu yang saya berikan selalu terkinikan dari pengalaman penalitian, jurnal dan text book yang saya baca serta kebermanfaatan ilmu dan pemikiran saya abdikan kepada masyarakat.
Perihal Sertifikasi Dosen: buat saya ada PERBEDAAN yang mendasar antara RASA SYUKUR, KELAYAKAN dan KEBANGGAAN.
Cogito Ergo Sum
Berikut oleh-oleh pertama saya buat rekan-rekan yang tidak dapat hadir di acara APACPH dan utamanya anak-anakku pejuang kesehatan. Hari ini pukul 17.00-18.30 wita saya ikut dalam workshop pengembangan kurikulum rokok di perguruan tinggi. Saya mewakili Pak Priyono Setyabakti (Epid) dan Pak Oedojo Soedirham (PKIP) untuk mempresentasikan kurikulum tentang rokok versi FKM Unair. Saya sampaikan beberapa hal diantaranya:
1. FKM sebagai Free Tobacco Campus
2. adanya kelompok yang dibentuk IAKMI Jatim dalam penanggulangan masalah Tobacco atau Sentra Tobacco Control and Advocation (maaf jika salah namanya)
3. Tutorial Pengantar IKM yang salah satunya mengangkat tentang rokok; dengan metode yang atraktif seperti kelas kecil, studi kasus, interaktif dan tahun lalu juga menggunakan multi media pemutaran Film “Thank You for Smoking”. Walaupun ada juga yang saya lupa sampaikan tentang tugas tutorial tahun lalu yang mewajibkan kelompok tutorial saya untuk menulis “surat cinta” pada dosen FKM yang merokok.
4. Kelompok mahasiswa debat yang sering membahas mosi tentang tembakau mulai dari FCTC hingga masalah pajak atau iklan atau juga beasiswa rokok.
Dalam panel diskusi ada sekitar 9 orang presenter termasuk saya yang hampir semua menyebutkan bahwa BELUM ADA institusi yang mempunyai mata kuliah khusus tentang masalah rokok; kebanyakan hanya sebagai topik atau bahan penelitian. Menariknya, sebagian besar di institusi pendidikan presenter masalah tembakau dan rokok banyak dijadikan bahan kajian Mata Kuliah Pengantar IKM, sebagian juga menjadi opic tutorial seperti di Hongkong, Sam Ratulangi dan Unair. Mungkin tutorial seperti ini perlu dikembangkan lebih BANYAK lagi di FKM..katakan dari satu ditambah tujuh (masing-masing satu dari departemen,hehe…Bu Dekan…Dasar Ilmu Gizi siap di Tutorialkan). Kembali ke Bali, Peserta dari New Zealand mengatakan bahwa masalah rokok merupakan masalah yang bisa dikaji baik dari segi Public Health maupun Medicine. Rekan dari Hongkong mengatakan baha di Cina semakin banyak Clinician yang merokok. Teman dari FK UGM justru selangkah lebih maju dari kita yang telah membuat sekitar 17 modul perkuliahan tentang rokok. Dan saat Pak Imam Moechni (dosen LB FKM Unair) menegaskan bahwa modul UGM harus PH minded; Bapak Jurir dari UGM menyatakan walaupun diberikan secara sepotong-sepotong pada kurikulum blok versi FK, beliau sepakat bahwa kurikulum tentang rokok memang lebih condong untuk prevention and advocation even taught in the MedSchool.
Ada juga salah satu pesera menanyakan kepada presenter seberapa banyak minat mahasiswa di institusi masing-masing ketika mengambil skripsi dengan tema rokok. Secara personal Pak Pri bilang bahwa beliau saat ini membimbing 2. Saat presentasi saya juga sampaikan bahwa masalah rokok apat berkaitan dengan berbagai hal dan saya contohkan hasil PKL (Field Group Study) di FKM Unair; khususnya bimbingan saya (Hadya dkk.) menunjukkan hubungan signifikan antara kebiasaan ayah merokok dengan ISPA pada balita.
Pada intinya sesi Workshop digelar untuk menggalang kekuatan melawan industri rokok yang luar biasa menghegemoni segala sendi kehidupan kita. caranya adalah dengan saling berbagi tentang kurikulum tentang rokok dan mengambil Lesson Learn untuk bisa diterapkan pada anak didik masing-masing. Hingga pada akhirnya diharapkan mahasiswa kita tiak HANYA sebagai pembelajar tentang rokok namun lebih jauh bisa dan MAMPU melakukan ADVOKASI tentang rokok dengan segala bahaya dan KERUGIANNYA.
Panitia Berjanji men-share beberapa modul dari rekan UGM via email…jika sudah saya terima insyaAllah akan saya share sebagai tambahan Amunisi Perjuangan Kita…!
Benefincente!
Nutrition Care, Health Care and Psycosocial Stimulation: Guest Lecure Prof. Fasli Jalal (Vice Minister of National Education)
5542 Comments Published Juli 4th, 2011 in Uncategorized.Another oleh-oleh dari APACPH
Hari kamis kemaren acara di APACPH cukup melelahkan; dari pembukaan resmi, simposium hingga kuliah umum oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional Prof. Fasli Jalal. Prof. Fasli yang juga orang gizi memberikan kuliah umum tentang pentingnya integrasi 5 pilar dalam mencapai generasi penerus yang berkualitas yaitu: Nutrition Care, Health Care, Pscyco-Social Stimulation, Parenting dan Security, namun beliau lebih banyak mengupas tentang pentingnya Nutrition Care dan Psyco-Social Stimulation.
Moderator Prof. Achadhi dari SEAMEO menyampaikan CV Prof. Fasli yang memperoleh PhD di Cornell University what so called “The Mecca of Nutrition” (secara pribadi kuliah di Cornell juga menjadi impian saya karena semua pakar gizi di Indonesia adalah alumni Cornel). Presentasi Prof. Fasli diawali dengan beberapa data tentang masalah gizi di Indonesia utamanya pada balita sebagai generasi penerus bangsa. Beliau menyampaikan bahwa dilihat dari indeks BB/U keadaan status gizi balita Indonesia sudah pada trak yang tepat dimana prevalensi gizi kurang dan gizi buruk hingga hasil Riskesdas 2010 yang belum di publish mencapai kisaran 17% dan sangat dimungkinkan dapat mencapai standard MDGs di tahun 2015 yaitu 15,5%. Namun jika dilihat dari indeks TB/U yang menggambarkan chronic malnurition ternyata keadaan balita bahkan hingga anak-anak (sampai 18 tahun sesuai UU perlindungan anak) yang mengalami stunted masih cukup tinggi. Jika dibandingkan dengan standard WHO MGRS 2006 hanya sampai usia 6 bulan TB/U balita berada pada kisaran grafik normal baik untuk laki-laki maupun perempuan, namun selepas bulan plot garis pertumbuhan balita kita cenderung menurun hingga sampai usia 60 bulan sudah hampir masuk pada garis merah. Bahkan jika dilanjutkan pengamatan hingga usia 18 tahun anak Indonesia baik laki-laki maupun perempuan lebih pendek 10 hingga 13 cm dari standard WHO.
Lebih lanjut Prof. Fasli mengambarkan rendahnya cakupan ASI Ekslusif dan pemberian ASI hingga 2 tahun. Beliau menjelaskan bahwa orantua balita “kurang peduli” jika anaknya pendek atau stunted dibilang gizi buruk atau gizi kurang; namun jika pesan dikaitkan dengan “kecerdasan” anak maka orangtua akan lebih mau mendengar. Digambarkan bahwa syaraf manusia berkembang mulai daam kandungan dan berkembang pesa saat 2 tahun awal kehidupan. Sel syaraf terdiri dari neuron, dendrit dan myelin. Dengan gizi yang baik serta stimulasi psikososial yang memadai maka neuron dan dendrit akan dapat memiliki cabang yang kompleks sehingga pesan melalui syaraf dapat berjalan dengan lebih cepat. Asupan gizi yang baik..utamanya pemberian ASI akan dapat membentuk myelin yang membungkus dendrit sel syaraf dan Prof. Fasli umpamakan sebagai isolator atau bagian plastik pada kabel. Jika isolator kabel terkelupas maka akan sangat rawan mengalami konsleting; begitu pula dengan fungsi myelin. Mencermati rendahnya cakupan ASI Ekslusif dan pemberian ASI lanjutan hingga 2 tahun bisa dibayangkan kapasitas maksimal sel syaraf termasuk sel syaraf pusat di otak dan sumsum tulang belakang anak Indonesia jauh dari kata optimal. Mencermati hal ini, saya rasanya ingin segera pulang ke Surabaya untuk memeluk istri saya dan mengatakan THANKS LOVE for THE BEST FOOD YOU HAVE BEEN GIVEN TO OUR SON, I love you…:D
Prof. Fasli juga menjelaskan bahwa sel syaraf yang telah terbentuk jika jarang atau tidak distimulasi secara psikososial dapat mengalami pengeruan dan mati. Beliau menyayangkan beralihnya keluarga besar (extended family) ke tipe keluarga kecil (nuclear family) yang ternyata sangat berpengaruh terhadap interaksi psikososial anak kita. Semakin banyak orangtua baik ayah dan bunda yang bekerja dan hanya memiliki waktu yang terbatas untuk berinteraksi dengan anak. Pada zaman dahulu, tipikal di pedesaan, keluarga besar akan dapat memberikan rangsangan psikososial secara penuh bukan hanya oleh orangtua, namun oleh seluruh anggota keluarga besar. Saya merasa bersalah pada anak saya Ismail dan semoga saya dan bundanya Ismail dapat memiliki waktu yang lebih banyak untuk buah hati tercinta. Karena rusak atau matinya sel syaraf sifatnya adalah permanen atau irreversible, semoga semua orangtua di dunia semakin faham akan hal ini.
Benefincente!
Ringkasan Health-Promoting School chapter 3 (Barnekow et.al., 2006)
6080 Comments Published Juli 4th, 2011 in Public Health.World Health Organization (WHO) pada tahun 1986 telah menelurkan Ottawa Charter yang menjadi dasar utama dalam setiap kegiatan Promosi Kesehatan. Terdapat 5 blok kunci dalam pengembangan Promosi Kesehatan yang tertuang dalam Ottawa Charter meliputi:
- Building healthy public policy (Pembangunan kebijakan masyarakat yang sehat)
- Creating supportive environment (Membentuk lingkungan yang kondusif)
- Srengthening community action (Memperkuat kegiatan masyarakat)
- Developping personal skill (Mengembangkan skil individu)
- Reorient health service (Mereorientasi layanan kesehatan)
Sehingga konsep Health-Promoting School juga sebagian besar akan diwarnai oleh hasil dari Ottawa Charter tersebut. Pendekatan tradisional terhadap Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) selama ini masih sangat bergantung pada peran guru sebagai role model. Hal ini dirasa tidak mencukupi karena msih banyak faktor yang mempengaruhi perilaku sehat siswa baik di sekolah, di luar sekolah, maupun peran peer group. Untuk itu, pendekatan Health-Promoting School lebih menitik beratkan pada integrasi Promosi Kesehatan pada keseluruhan konteks yang mempengaruhi perilaku kesehatan siswa mulai dari pihak sekolah hingga masyarakat.
Dasar dari pendekatan Health-Promoting School meliputi:
- Student’s participation
Partisipasi siswa selama ini telah dikembangkan dengan adanya program Dokter Kecil, namun masih belum banyak berkembang dikarenakan keterbatasan kapasitas guru pembina UKS dan intensitas petugas Puskesmas ke sekolah yang belum maksimal.
2. The concepts of empowerment and action sompetence
Pemberdayaan mutlak diperlukan agar kegiatan dapat berlangsung dengan berkesinambungan.
3. The settings approach
Setting dalam kegiatan Health-Promoting School dapat dilakukan dengan 3 pendekatan baik melalui: lingkungan sekolah, kurikulum sekolah, dan hubungan antara sekolah dengan orang tua maupun masyarakat
4. Health policy
Kebijakan yang ada disekolah diharapkan dapat mendukung keberhasilan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang berkelanjutan.
Briptu Norman dan Student Centered Learning
6544 Comments Published Juli 4th, 2011 in Uncategorized.Kayaknya udah lama nggak nulis note…mungkin karena kerjaan Penunjang Fakultas yang angka kreditnya cuma diakui satu setahun itulah the culprit. Note saya kali ini tidak jauh dari apa yang sedang ada dalam pemikiran dan pekerjaan BERGAJI pahala di almamater tercinta. Dan ijinkanlah saya memulainya dengan analogi tentang fenomena Briptu Norman Kamaru yang menghebohkan.
Mungkin hampir semua yang “mengenal” saya lebih dekat faham betul bahwa saya penggemar film India. Mulai teman jaman kuliah, rekan kerja hingga mahasiswa. Saya senang karena tiga hal, pertama karena Plot Cerita yang menyentuh sisi emosional (biasanya disangatkan dengan background score yang melo saat sedih juga terkadang Tabla yang menghetak saat adegan penuh semangat). Kedua adalah karena film India syarat akan nilai budaya mereka, bagaimana menghormati orangtua, adat dan budaya. Alasan terakhir tentu jika lagunya enak didengar; walau di sebagian film terkesan hanya “tempelan”, namun dengan lagu itu kita bisa merasakan kembali romantisme atau kesedihan aau semangat yang ada dalam film. Tengoklah Kuch Kuch Hotta Hai, jika mendengarnya tentu kita akan merasakan getaran saat cinta itu sedang menerpa; kesedihan saat usaha kita mentok kayak Joy Lobo dalam Give Me Some Sunshine (3 Idios). Buat saya pribadi the evergreen Bollywood song is Kabhie Kushi Kabhie Gham lagu saat perayaan Deewali dimana sang anak pulang sekolah dari luar negeri naik hellicopter dan berlari menuju rumah karena sudah sangat kangen dengan ibunya…honestly, every time I played the song I can’t stop my eyes from drowning as I remember the lifetime struggle my step mother has been doing to make me what I am today. I love you mum…
Menurut pendapat saya, gelombang demam film India di Indonesia hingga saat ini terbagi menjadi 3 phase. Phase pertama terjadi pada era Layar Tancap sekitar akhir 70 hingga awal 90-an. Mungkin sebagian kita yang baca Note ini belum merasakannya, namun jika kita tengok bukti sejarahnya cukup membekas. Salah satu yang paling menonjol adalah Lagu Bang Haji Rhoma Irama dengan Elya Kadam yang berjudul “Sawan Kamahina”…Sawan Kamahina Pavane Kare Shoor…Jie Arare Jumme Kaise Jaise Baan Marache Moore…:p…still got that right! Bintang Filmnya saat itu tentu masa mudanya Amitabh Bachan, Hema Malini, Dharmendra, Jeetendra, Sridevi hingga Mithun Cakrabhorty. Phase pertama ini terjadi karena saat itu masih sangat terbatasnya jenis hiburan rakyat yang murah meriah, sehingga Layar Tancap yang Misbar alias Gerimis Bubar masih menjadi tontonan utama hingga level kecamatan.
Phase kedua menurut saya adalah phase VCD bajakan, terjadi pada akhir 90-an. Seperti halnya Bang Haji Rhoma Irama yang menyulut gelombang demam India pada phase 1, fase 2 ini disulut oleh film India itu sendiri yang walaupun di India bukan All Time Blockbuster, namun di Indonesia sepertinya menduduki rangking satu hingga saat ini, Kuch Kuch Hotta Hai. Pada era ini, Layar Tancap sudah ditinggalkan, orang sudah mulai beralih kepada hiburan di dalam rumah karena harga TV semakin murah, adanya VCD player murah serta yang terpenting supply VCD bajakan yang murah dan uptodate. Saya masih ingat sekali saat awal jadi mahasiswa di Surabaya sering ke Siola yang saat itu masih “gelap” karena banyaknya penjual VCD bajakan dengan teman saya Ekoa Rahman Setyawan, S.KM (PNS Gorontalo asli Jombang). Bintang film yang terkenal era itu masih eksis hingga sekarang, yaitu Shah Rukh Khan, Aamir Khan, Salman Khan, Maduri Dixit, Kajol, dan Manisha Koirala. Film Dil Se (Sepenuh Hati) salah satu film Shah Rukh Khan dan Manisha Koirala yang tidak Booming saat itu di Indonesia justru meledak lewat lagunya yang dinyanyikan oleh Briptu Norman Kamaru.
Phase ke-3 demam India menurut saya terjadi sekarang. Memang yang mempopulerkan bukanlah artis Indonesia semacam Bang Haji Rhoma Irama, Elya Kadam, atau Shah Rukh Khan sendiri yang datang ke Indonesia, namun seorang polisi Gorontalo bepangkat Briptu bernama Norman Kamaru lewat lagu Chaiya Chaiya (ost. Dil Se). Demam India saat ini terjadi karena kemajuan teknologi, Laptop murah, intenet, wifi, HP android dan yang terpenting Social Network dan Youtube. Memang fakta bahwa sang Polisi mempunyai FEEL Bangra ditunjang aksinya yang kocak membuat lagu yang sebenarnya sudah ada sejak akhir 90-an menjadi banyak diburu masyarakat Indonesia kembali, namun peran media Youtubee sangat besar dalam hal ini.
Nah, ketiga phase demam India itu juga sedikit banyak mempunyai kemiripan dengan fase perkembangan metode pembelajaran Kesmas. Phase pertama ditandai dengan minimnya peralatan atau media pembelajaran, dengan kurikulum berbasis ISI atau inti. Dimana seorang dosen mengajar sesuai topik-topik yang ada dalam suatu buku. Tidak dilihat apa kompeensi yang ingin dicapai, hanya mengambil satu buku sebagai Kitab Suci untuk kemudian BAB yang ada dipakai sebagai isi pertemuan atau tatap muka kuliah. Sehingga sebagian besar kuliah hanya diisi dengan ceramah dan syukur-syukur ditambah tanya jawab di akhir kuliah (waktu terbatas).
Phase kedua dimulai dengan adanya ketentuan DIKTI dengan KBK atau Kurikulum Berbasis Kompeensi. Tidak lagi menggunakan satu kitab suci dan ngajar per-BAB, namun sudah ditentukan kompetensi apa yang akan dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kuliah tertentu. Sayangnya, kebanyakan KBK ini hanya sebatas TERTULIS dan penerapannya “Jauh Panggang Daripada Api”; tidak ada evaluasi terhadap capaian KOMPETENSI semisal dengan di tes Uji Kompetensi Mata Kuliah tertentu; atau mudahnya Unjian Komprehensif-lah. Pada GBPP (Garis Besar Panduan Pendidikan) serta SAP (Satan Acara Pengajaran) yang tertulis masih “Dosen Melakukan Apa” dan “Mahasiswa Melakukan Apa” saat dosen “Melakukan Apa”…salah satu Pakar Pendidikan di ITS mengatakan “Typical Teacher Centered Learning”. Dosen yang banyak melakukan sesuatu, berorasi atau “nggedabus” di depan kelas sedang mahasiswa “mendengaran” eh…masih mending “BB-an, FB-an, Twiteran…atau Farmville-an” hehe…Lha kalau kayak gini gimana nggak cuma dapet KULIT? Regardless kurikulum general atau spesialis, kalau sistem pengajarannya masih kayak gini dapetnya ya Kulit Thok!
Phase ketiga terjadi saat ini dengan pengembangan Student Centered Learning (SCL) walaupun tetap mengacu pada pencapaian kompetensi. Dengan SCL, mahasiswa yang lebih banyak “ngoceh”, melakukan sesuatu, dan itu didapat bukan hanya dari dosennya; tapi cari sendiri dengan “rangsangan” MODUL atau TUGAS TERSTRUKTUR dan jelas dari dosen. Sumber acuan minimal ditentukan oleh dosen dan mahasiswa SANGAT dianjurkan untuk secara kreatif menambah sendiri dari hasil belajar. Sehingga dengan proses yang mengedepankan mahasiswa untuk “bergerak”tentu hasilnya akan lebih MEMBEKAS di alam bawah sadar mereka daripada sekedar mendengar dan hapalan dengan sistem kebut semalam saat mau ujian.
Let’s face it! Mata kuliah yang mengedepankan hafalan dan MK Penunjang (tidak secara langsung sesuai kompetensi Kesmas) seharusnya DIHAPUS! Kenapa, karena kita sudah ada di Phase Ke-3, Phase Briptu Norman Kamaru dengan “Chaiya Chaiya” atau SCL dalam dunia pendidikan. Sesuatu yang HAFALAN atau Mata Kuliah yang “SEKEDAR TAHU” atau “mosok SKM NGGAK TAHU PENYAKIT INI, ITU” akan segera HILANG saat semester berikutnya, apalagi saat LULUS. Hal-hal yang seperti iu BISA di GOOGLING, sekarang jamannya informasi, WEB 2.0…janganlah kita menjadi RAJA KATAK DALAM TEMPURUNG.
STAND FOR CHANGE!
Cogito Ergo Sum
Coba cermati beberapa alenia berikut ini:
Peni setiap hari pergi bersama 6 kawannya ke Pasarturi naik sepeda. Keenam kawannya adalah: Septa, Yuni, Ade, Riska, Deni dan Riris. Sebagian besar (80%) dari mereka memakai sepeda Jengki dan sisanya menggunakan sepeda lipat untuk nggowes setiap hari ke Pasarturi. (descriptive)
Peni setiap hari pergi bersama 6 kawannya ke Pasarturi naik sepeda. Mereka melakukannya untuk membangun kebersamaan sebagai sesama bimbingan skripsi Pak Trias serta untuk meningkatkan kesegaran jasmani mereka. Sebagaimana disampaikan oleh salah seorang rekan Peni berikut:
“Ya memang dengan setiap minggu ngontel bareng kebersamaan dalam grup Gizi Pasukan P. Trias jadi lebih erat,
suasananya bisa cair, sehingga jadi nggak sungkan untuk saling bantu…lagian badan jadi fresh” (i.1).
Hal yang disampaikan oleh rekan Peni (i.1) tersebut ternyata selaras dengan penuturan Pak Trias sebagai dosen pembimbing:
“Semenjak anak-anak bimbingan saya ngadain nggowes tiap pagi ke Pasarturi mereka menjadi lebih bersemangat
menyelesaikan skripsi, terlihat lebih ceria dan tidak saling sungkan” (i.2)
Gambar 5.1 (berupa foto ke-7 bimbingan Pak Trias nampang dengan ceria walau berpeluh di depan Pasarturi) menunjukkan bahwa keceriaan dalam beraktivitas fisik secara komunal.
Dari ketiga data diatas kita tahu bahwa bersepeda setiap hari dapat meningkatkan peer togetherness serta kesegaran jasmani mahasiswi bimbingan Pak Trias. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Hario (2010) bahwa nggowes minimal 2 jam setiap hari akan menaikkan skor kesegaran jasmani sebanyak 10 poin. (qualitative-analytic)
Peni setiap hari pergi bersama 6 kawannya ke Pasarturi naik sepeda. Mereka melakukannya untuk membangun kebersamaan sebagai sesama bimbingan skripsi Pak Trias serta untuk meningkatkan kesegaran jasmani mereka. Setelah satu semester melakukan nggowes bersama, dilakukan pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi serta kenaikan tingkat kesegaran jasmani. Enam dari tujuh mahasiswa (Table.1.1) mengalami kenaikan skor kesegaran jasmani dan setelah dilakukan Uji Statistik terdapat perbedaan signifikan antara kesegaran jasmani (p=0.000) dan status gizi (p=0.001) mahasiswi bimbingan Pak Trias dengan mahasiswa bimbingan Prof. Hario yang tidak melakukan nggowes setiap hari ke Pasarturi. Hasil penelitian ini memperkuat pendapat Hario (2010) bahwa kenaikan skor kesegaran jasmani meningkat seiring peningkatan frekuensi aktivitas fisik. (quantitative-analytic)
Menggunakan ketiga contoh alenia diatas marilah kita coba pikirkan secara jernih, berapakah kita akan memberikan penilaian pada penulis berdasarkan 3 kriteria berikut:
1. Kemampuan Kajian Pustaka
2. Kemampuan analisis dan kajian problematika
3. Kemampuan menarik kesimpulan dan mengajukan pendapat pribadi
nilai 3,6 - 4,0 Kajian Pustaka Bagus, Analisis dan kajian problematika OKE serta kesimpulan dan pendapat pribadi baik (A)
Maka alenia manakah yang “layak” untuk mendapatkan nilai A? Silahkan tentukan dengan objektif.
Alenia diatas adalah refleksi kualitas skripsi yang ada di almamater tercinta. Ketiga kriteria penilaian diatas adalah bagian paling krusial yang menentukan nilai skripsi mahasiswa. Ketiga penilaian tersebut saya istilahkan (biar keren) THE FIFTH COLUMN, karena terdapat mulai pada kolom kelima penilaian sidang skripsi setelah rincian penilaian untuk Penyajian Lisan dan Sistematika Penulisan. Mari kita bahas satu per-satu.
Alenia pertama adalah contoh penelitian yang sifatnya deskriptif. Hanya menggambarkan sesuatu dengan pendekatan kuantitatif ada prosentase dan tabulasi silang. ITU SAJA. Tidak ada uji statistik, serta kajian Pustaka kurang mendalam. Jika merujuk pada fungsi S.KM yang M.I.R.A.C.L.E jelas A stands for Analytical Skill. Sedangkan pada buku panduan pendidikan jelas tertulis kompetensi kemampuan analisis dan kemampuan melakukan riset. Bagaimana dengan mahasiswa yang skripsinya tergolong pada alenia DESCRIPTIVE. Secara objective saya akan meluluskan mahasiswa tersebut, namun LAYAKKAH mahasiswa yang bersangkutan kita beri nilai A?
Alenia ke-2 (QUALITATIVE-ANALYTIC), penelitian model kualitatif memang jarang dilakukan di almamater tercinta. Namun dengan bangga jika ada mahasiswa saya uji dan memenuhi kriteria alenia ke-2, dengan adanya TRIANGULASI data baik hasil indepth, FGD, data sekunder (kuantitatif) atau gambar observasi ditunjang Tinjauan Pustaka yang kuat saya akan berikan nilai A tanpa paksaan.
Alenia ke-3 (QUANTITATIVE-ANALYTIC), model yang merupakan perwujudan kompetensi mahasiswa setelah hampir 4 tahun belajar di FKM dengan mengaplikasikan teori Biostatistika, Epidemiologi, Perilaku, Manajemen dan terkadang bersinggungan pula dengan Gizi, Kesling atau K3. Dengan ditunjang analisis yang tidak sekedar “kulit” serta tinjauan pustaka yang kuat buat mahasiswa seperti ini ABSOLUTE A! Memang terkadang skripsi model ini erkadang justru menggelitik para penguji karena banyak hal yang AMAZING dan menarik untuk diperdebatkan dan dipertanyakan ketimbang model alenia 1. Namun LAYAKKAH kita memberikan nilai A pada skripsi model alenia 1 yang saat sidang “aman-aman” saja karena memang deskriptif ya adanya memang demikian, dibandingkan nilai AB model alenia 2 atau 3 yang memancing “pembantaian” namun mengilustrasikan kedalaman penguasaan KOMPETENSI S.KM yaitu ANALYTICAL SKILL?
Permasalahan yang terjadi adalah semua mahasiswa dan pembimbing menginginkan nilai mahasiswa bimbingannya A, tanpa melihat dengan JUJUR dan ADIL apakah terkategori Alenia 1, 2 atau 3. Mungkin masalah kriteria dan contoh alenia masih bisa diperdebatkan; namun saat ini, saya mengetuk hati nurani KOLEGA DOSEN untuk berlaku JUJUR dan ADIL dengan ilustrasi THE FIFTH COLUMN diatas. Karena saat kita “mengasihani” mahasiswa kita, sebenarnya kita telah menjerumuskan mereka kejurang keniscayaan bahwa IPK dan nilai A adalah segalanya. Proses itu penting dan dalam pembimbingan selama lebih dari 6 bulan itulah mari kita godok mahasiswa menjadi mumpuni, menguasai kompetensi utama S.KM. Jangan lagi munafik dengan memberi nilai A pada mahasiswa type alenia 1; namun pada saat yang lain mengatakan S.KM NGGAK ISO OPO-OPO mung SARJANA KAKEHAN MLONGO. Mari kita ciptakan standard yang lebih tinggi untuk mencapai ANALYTICAL SKILL yang mumpuni untuk S.KM.
Memang belum sempurna, namun paling tidak saya mencoba memulainya; besar harapan saya gerakan ini bisa menggelinding menjadi lebih besar…mohon dukungannya untuk gerakan THE FIFTH COLUMN!
Cogito Ergo Sum!
Tahun ini saya tidak dilibatkan sebagai dosen pembimbing Praktek Kerja Lapangan (PKL) di kampus yang dilakukan untuk pertama kalinya di Kabupaten Probolinggo. Alhamdulillah…disyukuri saja, walaupun telah nulis “Letter to Prof. Hario” namun tetap kepercayaan itu belum disematkan untuk saya. Namun begitu, hal ini tidak menyurutkan saya untuk memberikan sedikit “bekal” pada semua anak-anakku para PEJUANG KESEHATAN agar memperoleh PENGETAHUAN, PENGALAMAN dan utamanya SENSE dan FEELING of PUBLIC HEALTH. Bekal itu bernama “Salud para el Pueblo” sebuah cerita tentang PEJUANG KESEHATAN di belahan bumi lain yang baru saja saya baca di salah satu textbook yang ada di ruang baca. Dengan sedikit perasaan sedih, dalam hati saya memberikan SELAMAT kepada diri saya sendiri karena telah menjadi pepinjam PERTAMA buku yang berjudul “A Community Guide to Environmental Health”.
Salud para el Pueblo merupakan suatu program promosi kesehatan yang dilakukan oleh pejuang kesehatan di suatu kota bernama Manglaralto, Ecuador untuk menghentikan epidemi kholera. Salud para el Pueblo sendiri slogan dalam bahasa Spanyol yang berarti “Health for the People”. Semoga dapat menyalakan api inspirasi semua anak-anakku yang akan terjun di Kab. Probolinggo, berikut ceritanya:
Di daerah pantai Ekuador, dalam setahun keadaannya sangat gersang selama 6 bulan dan sisanya akan menjadi sangat basah ketika musim peghujan melanda. Keadaan iklim yang seperti ini menjadi kendala utama untuk bercocok tanam. Pasar yang ada sangat sedikit dan pemerintah sedikit sekali memberikan fasilitas sekolah, klinik kesehatan (puskesmas di Indonesia) serta kebutuhan dasar manusia seperti air bersih. Saat wabah kholera melanda pada tahun 1991, banyak orang tidak siap dan sebagian besar mengalami sakit yang parah.
Hari demi hari semakin banyak warga yang sakit kholera dibawa ke Puskesmas setempat dalam keadaan yang lemah, bergemeletar tubuhnya dan mengalami watery diarrhea serta dehidrasi. Seorang PEJUANG KESEHATAN di Puskesmas tersebut menyadari bahwa telah terjadi epidemi kholera dan akan banyak orang yang meninggal jika tidak segera bertindak cepat untuk menghentikannya. Karena kholera mengkontaminasi air minum yang “passes easily” dari orang ke orang, pejuang kita tahu bahwa mengobati si sakit tidaklah cukup. Untuk mencegah penyebaran kholera, dirasa perlu untuk mencari solusi agar semua orang di Manglaralto dan desa sekitarnya memiliki air bersih dan toilet yang aman.
Pejuang Kesehatan kita mulai mengorganisir penduduk yang masih sehat dan melakukan pendekatan pada “local group” untuk membantu gearakan “Salud para el Pueblo”. Mereka membujuk organisasi yang mempunyai hubungan dengan donor asing untuk memberikan dana untuk memulai program darurat pengadaan air bersih dan toilet. Pejuang kesehatan kita kemudian mengorganisir suatu “public health comitteees” disetiap desa. Anggota komite itu kemudian memilih “village health educators” yang dilatih untuk mengajari penduduk tentang air bersih dan sanitasi (membangun dan menjaga toilet serta cuci tangan untuk mencegah penyebaran kuman). Dengan cara ini Pejuang Kesehatan kita memberdsyakan warga itu sendiri untuk BERTANGGUNGJAWAB dan mengambil bagian dalam perjuangan melawan kholera.
Hal pertama yang dilakukan oleh “Village Health Educator” adalah memberikan penyuluhan atau mengajari warga tentang bagaimana kholera menyebar. Kemudia mereka membantu setiap rumah tangga dan desa agar memiliki supply air bersih yang cukup. Mereka juga mengajarkan kepada warga cara untuk menghentikan dehidrasi yaitu dengan membuat larutan gula garam pada air bersih yang sudah dimasak. Mereka melakukan penyuluhan dan pendidikan kesehatan terkait pencegahan kholera (dengan mencuci tangan dan membangun serta memanfaatkan toilet atau jamban yang aman) di sekolah, gereja, balai desa dan tempat berkumpul masyarakat lainnya. Setelah bebrapa minggu kasus kholera hampir hilang.
Namun pejuang kesehatan kita menyadari bahwa mereka masih memerlukan upaya tambahan untuk memastikan agar kholera tidak mewabah kembali. Dengan bantuan insinyur setempat warga kemudian membangun “piped water system” untuk memastikan setiap rumah memiliki air bersih yang cukup untuk mandi. Warga sendiri dengan gotong royong mau mengerjakan pembangunan serta belajar bagaimana membersihkan dan menjaga “the water system” dan toilet. Mereka juga memastikan bahwa ternak dibuatkan kandng agar kotoran ternak tidak mencemari air bersih.
Dimulai dengan 22 desa, Salud para el Pueblo telah mencakup 100 desa tidak lama setelah digulirkan. Sebentar kemudian tidak terdapat kholera diseluruh region begitu pula beberapa penyakit dapat diturunkan prevalensinya. Namun beberapa waktu kemudian musibah “El Nino” menerjang pantai Ekuador di tahun 1997.
Dalam bukunya Conant & Fadem (2008) menjelaskan ada 3 hal yang membuat Salud para el Pueblo berhasil menghentikan wabah kholera dan menurunkan prevalensi masalah kesehatan lainnya, yaitu:
1. Worked with people in their home
Para pejuang kesehatan Salud para el Pueblo melatih warga tentang pentingnya menjaga supply air bersih DARI RUMAH KE RUMAH. Hal ini membantu para PEJUANG KESEHATAN untuk belajar memahami permasalahan lain yang ada di warga serta utamanya GAIN TRUST in the community. Sweeeett..!!!
2. Brought many groups together
Program ini juga menggandeng banyak pihak, mulai pemerintah setempat, LSM lokal dan NGO asing. Dengan bekerjasama, dapat dihindarkan suatu organisasi mengerjakan pekerjaan yang sama atau bekerja berlawanan satu sama lain.
3. Valued people as the most important resourse
Menurut saya ini hal terpenting dari Salud para el Pueblo yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi Pejuang Kesehatan di Kab. Probolinggo nantinya. Pejuang Kesehatan Salud para el Pueblo tidak MENYALAHKAN warga desa terkait dengan masalah kesehatan yang ada, mereka juga TIDAK bergantung pada bantuan dari pihak luar. Mereka menggunakan People’s own experience untuk bekerja mencapai tujuan yang sama yaitu memerangi kholera. Mereka menggunakan games, puppets, songs, discussions dan popular education activities untuk membuat warga berkumpul bersama sehingga WARGA dapat berbagi pengetahuan dan kemampuan mereka. Aktivitas seperti ini akan dapat membangun SELF-CONFIDENCE dan MOTIVASI dimana WARGA dapat melihat dan menyadari bahwa PENGETAHUAN dan PARTISIPASI MEREKA SENDIRI dapat mengatasi masalah kesehatan yang serius.
Lambat laun Pejuang Kesehatan Salud para el Pueblo kita menyadari bahwa disease-carrying insect menetas dan berkembangbiak di sampah dan tumpukan sampah. Kemudian mereka mengadakan community meeting untuk mengajak warga bahu membahu membersihkan jalan dan mengelola sampah dengan baik. Kemudian forum membentuk “environment health promoter” yang mengorganisir pekerjaan warga untuk pengumpulan sampah. Dibantu oleh insinyur lokal, Pejuang Kesehatan kita menginisiasi pembuatan Sanitary Landfills. Beberapa tahun kemudian Pejuang Kesehatan kita menggulirkan wacana tentang Recycling Program untuk mengurangi tumpukan sampah pada Sanitary Landfills. Saat ada donor asing memberikan hibah berupa Truk Sampah, mereka dapat melakukan hal tersebut. Uang yang didapatkan dari recycling digunakan untuk membayar solar dan biaya perawatan truk.
Hingga tahun 1996, Salud para el Pueblo telah membangun ratusan toilet, installed many piped water systems, 2 sanitary landfills, menjalankan recycling program dan mulai membantu warga plant community gardens.
Kemudian tahun 1997, bencana El Nino melanda daerah pantai Ekuador. Selama 6 bulan yurun hujan disertai angin HAMPIR SETIAP HARI. Angin yang kencang menumbangkan pohon, hujan membuat bagian dataran tinggi menjadi lumpur yang kemudian turun ke lembah dan sungai menjadi coklat pekat karena lumpur. Hujan terus menerus membuat sungai meluap dan menghancurkan desa. Toilets, water pipes, and years of hard work of Salud para el Pueblo were washed away…:_C
Ketika melihat hal tersebut, Pejuang Kesehatan kita menyadari bahwa mereka membutuhkan suatu usaha yang lain untuk mencegah bencana dimasa datang. Building water systems and promoting safe sanitation ONLY solved ONE PART of the problem.
Ada pepatah mengatakan “A hill with no trees is like a house with no roof”. Pohon akan menjaga dataran tinggi dari erosi saat hujan angin melanda, sebagaimana atap melindungi penghuninya dari panas dan hujan. The health workers began to see promoting tree planting and protecting natural resources as important as promoting health – because THEY ARE ONE and THE SAME!
Dengan keyakinan ini, Pejuang Kesehatan kita memulai Tree-planting Project, namun sebagian warga tidak mau menanam pohon. Salah seorang warga bernama Eduardo menolak dengan mengatakan:”too much work, they just want us to work for nothing”. Ia meyakinkan warga untuk menolak poyek penenaman pohon.
Salah satu Pejuang Kesehatan kita, Gloria mengumpulkan warga dalam sebuah pertemuan yang dinamai “But why…?” untuk membantu warga melihat dengan lebih dalam mengapa mereka kehilangan toilet dan piped water. Metode yang sederhana ini kiranya bisa mejadi alternatif yang dapat dilakukan saat PKL di Kab. Probolinggo untuk menemukan akar penyebab masalah; simple…just asked “But Why..”
Gloria:”Why were our water and sanitation system destroyed?”
Villager:”Because they were washed away in the storm”
Gloria:”But why they were washed away?”
Villager:”Because the rain turned the hillsides to mud and the villages slid down into the rivers, breaking all the water pipes and toilets”
Gloria:”But why the hillsides colapse?
Villager:”Because all the trees were cut and sold for lumber”
Gloria:”But why were the trees cut?”
Villager:”Because people needed money”
Dengan bertanya “Tapi Mengapa…?” Gloria membantu warga untuk dapat memahami bahwa masalah kesehatan yang mereka hadapi terkait dengan lingkungan mereka. Pada akhir diskusi sebagian besar warga sepakat bahwa penting untuk menanam pohon untuk mencegah erosi dan melindungi tanah, namun Eduaro belum teryakinkan:”Planting trees is too much work when we have no crop and no money. We need something that will feed us NOW not in 10 YEARS!”
Sejarah mengapa hutan di dataran tinggi gundul adalah karena warga menebangnya untuk menjadi kayu gelondongan karena ada perusahaan dari jepang yang membutuhkan untuk dibawa ke negara matahari terbit tersebut. Kayu dari daerah tropis seperti Ekuador dan Indonesia lebih kuat dan harganya relatif bagus dipasaran dunia.
Kembali ke Pejuang Kesehatan Salud para el Pueblo kita, Gloria, dia pulang ke Puskesmas dengan sedikit lesu.”Walaupun mereka telah paham tentang pentingnya menanam pohon, mereka masih tidak mau bekerja untuk menanamnya…bagaimana cara menyakinkan mereka?” gumam Gloria. Pada dia termenung, seekor lebah masuk ruangan dan menyengatnya. Ia tersentak, dan mengusir lebah yang kemudian terbang keluar jendela dan hinggap pada the red flower of carob tree. Hal ini memberikan ide pada Gloria.
Keesokan harinya Gloria mengumpulkan warga kembali dan berkata:”Jika kita menanam pohon yang bunganya disukai oleh lebah kita dapat memulai Bee-keeping project dan menjual madu. Hanya butuh satu tahun agar bunganya dapat mekar.” Semua warga setuju termasuk Eduardo, ia berkata pada Gloria:”When my granson was sick with diarrhea we made him a drink from the pods of the carob tree. It cured him better than any medicine from the doctor. I think it would be a good idea to plant carob trees. Then we can make the curing drink and use the honey we produce to make it sweet.”
Gloria balik ke Puskesmas dan sangat bersemangat tentang proyek barunya. Setelah merenungkan kembali, Gloria sadar bahwa IT WOULD NEVER WORK FOR HER TO TELL THE VILLAGERS WHAT TO DO. SHE HAD TO LEARN TO SEE THINGS WITH THEIR EYES, HEAR THEIR IDEAS, AND UNDERSTAND THEIR NEEDS IF SHE WAS TO BE AN EFFECTIVE HEALTH PROMOTER.
Demikianlah cerita tentang program Salud para el Pueblo di Ekuador yang dimulai dari wabah kholera, jambanisasi, perpipaan, sanitary landfills, recycling, community gardens, El Nino, Tree-planting Project hingga menjadi Bee-Keeping Project. Semua merupakan gambaran nyata dari Success Stories dibelahan dunia lain tentang apa itu KESEHATAN MASYARAKAT. Jika buat anda BELUM, Let’s Fall in Love with Public Health!
Buat anak-anakku yang akan diterjunkan sebagai Pejuang Kesehatan di Kab. Probolinggo, your exercise awaits you to become the real Public Health Warriors. Semoga cerita Gloria tentang bagaimana pendekatan dan seni BERPERANG KESMAS yang dilakukannya dapat menginspirasi perjuangan kalian dan bahkan mungkin akan lebih luar biasa yang kalian akan lakukan karena seperti komen Tetra, ada tantangan Bahasa. Happy Learning Children…CLEAR EYES, FULL HEARTH…CAN’T LOOSE!
Pustaka:
Conant, J., & Fadem, P. (2008). Promoting Community Environmental Health. In Conant, J., & Fadem, P., A Community Guide to Environmental Health, (pp.1-9). Canada: Hesperian Foundation.







